Sejarah Pembangunan Pura Lingsar

Sejarah Pembangunan Pura Lingsar – Sulit dipercaya, bahwa di dunia ini ada umat beragama yang memiliki latar belakang etnis, kultur, dan keyakinan agama yang berbeda dapat hidup berdampingan di dalam melaksakan ibadahnya masing- masing. Perbedaan di antara mereka pun dianggap sebagai sesuatu yang wajar, logis, dan sebuah hikmah dari Tuhan Yang Maha Esa karena perbedaan tersebut membuat mereka menjadi saling mengenal dan kemudian muncul rasa toleransi untuk saling menghormati keyakinan satu sama lain.

Sejarah Pembangunan Pura Lingsar

Sejarah Pembangunan Pura Lingsar
Sejarah Pembangunan Pura Lingsar ( sumber dolan dolen )

Di lokasi wisata Pura Lingsar terdapat sebuah sanggar yang keramat yang diusung oleh kedua umat beragama Hindu dan umat Islam Wektu Telu sesuai dengan presepsi dan keyakinan mereka. Pengerjaan bangunan pun dilakukan secara bersama- sama, kecuali beberapa bagian yang memang harus dikerjakan sendiri- sendiri sesuai presepsi. Tradisi dan kepercayaan untuk mensyukuri keberadaan mata air yang memancar di lokasi Pura atau dikenal dengan istilah Kemaliq, dipercaya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber kehidupan, mengibarkan semangat untuk saling bekerja sama antara kedua umat beragama, memupuk rasa tanggung jawab untuk saling menjaga, dan pengorbanan tanpa pamrih untuk saling membantu setiap upacara suci yang ada.

Dalam rangka melestarikan keberadaan mata air yang diyakini oleh kedua umat sebaga sebuah kawasan sakral dan magis, sesuai dengan tradisi kultur dan keyakinan masing- masing umat, maka setiap tahunnya diadakan sebuah upacara yang dinamakan “Upacara Topat”. Upacara ini diusung oleh suku Sasak yang sebagian besar kegiatannya berlangsung dalam waktu dan tempat yang bersamaan dengan Upacara Odalan atau Pujawali yang dilakukan oleh umat Hindu dan kedua umat dapat dengan khidmat melaksanakan upacara masing- masing.

Awal Mula Sejarah Pembangunan Pura Lingsar

Nama pura atau kemaliq Lingsar ini muncul ketika ada serombongan orang dari Bali untuk pertama kalinya datang ke Lombok. Rombongan orang Bali tersebut berasal dari Karangasem yang jumlahnya ada sekitar 80 orang. Kedatangan mereka mendarat di pantai Barat dekat dengan gunung Pengsong di Lombok Barat. Rombongan ini berasal daru keluarga kerajaan. Kemudian rombongan ini melanjutkan perjalanan ke Perampuan, lalu ke Pagutan kemudian ke Pagesangan.

Dari Pagesangan, rombongan berjalan kaki tetapi belum menemukan tanda. Sesampainya di daerah Punikan, rombongan mulai merasakan haus dan lapar sehingga beristirahat untuk makan dan minum. Setelah selesai makan, tiba- tiba ada suara seperti letusan dan bergemuruh. Kemudian, mereka mencari asal mula datang suara tersebut. Ternyata suara tersebut berasal dari mata air yang baru meletus, kemudian salah seorang pemimpin tersebut mendapatkan wahyu yang mengatakan untuk membangun Pura di lokasi tersebut jika rombongan menjadi penguasa di Pulau Lombok. Oleh rombongan, luapan air tersebut diberi nama Ai’ Mual yang artinya air yang mengalir. Selanjutnya nama Ai’ Mual berganti nama menjadi Lingsar. Lingsar sendiri berasal dari kata Ling yang artinya adalah wahyu atau sabda, sedangkan Sar memiliki arti sah atau jelas, sehingga Lingsar memiliki arti sebagai wahyu yang jelas. Sedangkan mata air yang terletak tidak jauh dari daerah tersebut diberi nama Air Timbul yang letaknya di sebelah timur Lingsar.

Sejarah Pembangunan

Pembangunan Pura Lingsar dilakukan pada tahun 1759, yaitu tahun berakhirnya kekuasaan Mataram yang pada waktu itu berpusat di Cakranegara. Pembangunan bangunan ini dibwah kekuasaan Raja Ketut Karangasem Singosari. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menyatukan secara batiniah Masyarakat Sasak dengan Masyarakat Bali. Pura Lingsar dibangun berdampingan dengan Kemaliq Lingsar yang merupakan tempat pemujaan Masyarakat Sasak. Jauh sebelumnya di lokasi ini Masyarakat Sasak telah melakukan pemujaan terhadap sumber mata air yang disebut juga kemaliq. Dalam bahasa Sasak Kemaliq memiliki arti keramat atau suci, oleh karenanya sumber mata air ini dikeramatkan oleh suku Sasak. Menurut kepercayaan suku Sasak, tempat tersebut diyakini sebagai tempat hilangnya (moksa) seorang penyiar agama Islam Wektu Telu yang bernama Raden Mas Sumilir dari kerajaan Medayin.

Keberadaan Pura Lingsar

Keberadaan ajaran Islam Wetu Telu di daerah Lingsar ini berasal dari Jawa melalui Bayan, atas instruksi Sunan Pengging dari Jawa Tengah pada permulaan abad XVI. Islam Waktu Telu ini adalah sinkritisme Hindu – Islam. Sumber ajarannya berasal dari ajaran Sunan Kalijaga. Sinkritisme ini dalam kepercayaan mistik merupakan kombinasi dari Hindu (Adwaita) dengan Islam (Sufisme), dengan ajaran pantheisme. Sehingga animisme masih berlaku terus dan mistik dari segi agama bisa diterima secara sukarela oleh semua penduduk Lombok yang masih paham animisme. Ajaran inilah yang kemudian dinamakanWetu Telu. Menurut ajaran Hindu, orang yang beragama lain tidak boleh dipaksa menerima ajaran agama Hindu. Tetapi yang dipaksa oleh raja Bali adalah ajaran bahwa semua orang harus berterima kasih kepada Tuhan dengan agama, kepercayaan dan caranya masing-masing. Dengan adanya kepercayaan ini maka pembangunan yang dilakukan oleh Anak Agung Anglurah Gede Karang Asem pada tahun 1759 .

Bagian bangunan bagi masyarakat Hindu dinamakan Gaduh, yang artinya Pura. Bagian bangunan bagi masyarakat penganut Wetu Telu dinamakan Kemaliq, yang artinya keramat. Gaduh dan Kemaliq ini boleh dipakai kapan saja menurut keperluan agamanya masing-masing, tetapi hanya sekali setahun harus diadakan upacara bersama, yaitu Perang Topat. Perang Topat adalah suatu kegiatan upacara dalam bentuk perang-perangan dan topat atau ketupat sebagai senjata yang dipakai dengan cara saling lempar dengan sesama teman.

Perang Topat

Perang Topat diadakan sebelum menanam padi tetapi setelah datangnya musim hujan. Maksud dari acara ini adalah untuk mengembalikan hasil tanah (berupa topat) kepada asal (Lingsar). Hasilnya tersebut akan menjadi rabuk (bubus lowong) untuk bibit padi yang akan ditanam. Yang utama menghadiri upacara tersebut adalah anggota Subak Kecamatan Lingsar dan Narmada. Perang Topat merupakan ungkapan sukacita atau terima kasih kepada Sang Pencipta. Tiap tahun sebelum Perang Topat, ada beberapa orang dari Subak ini yang naik ke Gunung Rinjani dengan membawa benda-benda yang terbuat dari emas berbentuk udang, gurami, nyale, dan kura-kura. Benda-benda ini nantinya akan dibuang ke Danau Segara Anak dengan maksud untuk memohon kemakmuran.

Informasi Sejarah Pembangunan Pura Lingsar

Lokasi Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, NTB
Tiket Rp 5.000,-
Waktu Buka 08.00 – 18.00
Fasilitas Obyek Wisata Mata air, kolam ikan julit, Bangunan suci

Semoga informasi tentang sejarah pembangunan Pura Lingsar dapat menambah pengetahuan dan wawasan pembaca. Terima kasih!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *